Sabtu, 28 Februari 2015

Dengar curhat-ku

hari ini sebenarnya aku pingin bilang bahwa ternyata anggapanku selama ini terhadap diriku salah. aku menganggap diriku yg sendiri ini penuh dengan kemalangan. bahkan aku sungguh tidak bersyukur dengan posisiku sebagai anak kedua. orang bilang tidak enak menjadi anak kedua karena semuanya dinomor duakan. kenyataannya sampai kemarin aku menganggap omongan itu benar.

sebenarnya aku tidak tahu mengapa aku harus bersedih disaat orang tuaku tidak terlalu perhatian kepadaku. atau selalu menjadikanku sopir untuk semua orang yang butuh diantar. bahkan sangat jarang membelikan pakaian untukku disaat remajaku. mereka menyerahkan semuanya sendiri kepada segala sesuatunya yang dapat dipercayakan kepadaku. aku tidak merasa bagaimana dipilihkan misalnya bagaimana model tas, sepatu, atau baju yang bagus. semua itu mereka lakukan untuk kakak dan adikku. tidak ada peralatan make-up khusus untukku seperti kakak, atau tidak ada perhiasan khusus yang berganti-ganti seperti adik. itu semua tidak ada dalam hidupku.

yang lebih parahnya aku juga tidak memiliki teman seperti kakak dan adikku. tidak cantik seperti mereka. tidak lembut seperti mereka meskipun saat ini aku sudah mengganti celana jeans, baju pendek, dan rambut pirangku menjadi ke style yang lebih muslimah dengan lebih sering memakai rok dan baju lengan panjang serta lebih lengkap dengan jilbab . oh dan ini juga bukan saran orang tuaku. mereka hanya melihatku terheran-heran setelah aku menjadi seperti sekarang. dan sekarang mereka mulai perduli dengan semua perubahanku. hanya saja aku masih tetap dengan semua gaya yang berantakan. masih ada baju bola dalam lemariku yang masih menjadi bahan tawaan mereka.

sekarang aku bersyukur dengan semua yang serba terserah diberikan untukku menjadikanku lebih mandiri dan sederhana. dan baru-baru ini ibu sepertinya  menyadari bahwa ia melupakan satu hal yaitu mengajaiku untuk berdandan ketika aku mulai remaja. akhirnya jadilah aku yang sekarang serba apa  adanya . dan aku sangat pusing ketika ibu mulai meneriakkan "cobalah seperti gadis, apakah kau mau jadi perawan tua?". aku hanya berkata "iya iya... nanti kali aku cantik akan banyak yang menggodaku dan kuliahku tak akan selesai ".

kesedihanku membuatku merasakan itu lucu . mendapati keaadaanku yang sekarang. mereka membiarkan aku pergi kemanapun dan melanjutkan sekolah dimanapun asal lulus . mereka cukup percaya terhadapku untuk pergi jauh dari mereka . karena aku tak perlu harus menemani ibu dirumah karena sudah ada adik berusia sepuluh tahun yang menggantikan peranku sebagai anak bungsu dari sepuluh tahun yang lalu. hingga akhirnya libur semester ini aku mengatakan tidak akan pulang dan awalnya mereka mengizinkan. sudah ku duga apapun akan diizinkan. mereka sungguh terlalu percaya padaku . apakah wajahku ini memang seperti anak paling jujur sedunia ? ha ?. tapi tiba-tiba aku sudah merencanakan jadwal liburku dijambi . mereka menelpon dan menyuruhku pulang. itulah hal yang paling ku kesalkan. disaat aku sudah menyukai kebebasan dan ketidak pedulian mereka , sekarang mereka terlihat sangat peduli terhadapku.

bahkan aku pulang ke jambi pas detik-detik terakhir sebelum masuk kuliah. sekarang mereka mulai peduli dan menanyakan siapa pacarku?ha? dan mengapa aku tidak ingin pulang. atau ibu yang mulai membelikanku baju. menyusun barang-barangku ketika aku akan pulang. memperhatikan kamarku. dan terakhir adalah ayah yang melarangku melanjutkan studi lebih jauh lagi kecuali hanya dibangko dan dijambi. jika memang pingin jauh lebih baik masih dipulau sumatera. aku rasa kesedihanku sudah hilang karena mereka sudah memperlakukan sama seperti kakak dan adikku . entah angin apa yang merubah perhatian itu. aku juga tak tahu... yang pastinya aku bersyukur dan aku merasakan aku sebagai anak mereka.

salam hangat
lisa purnama

Mengenai Saya